Helena D’arch Schneider, memandang awan-awan melalui jendela pesawat jet pribadi yang membawanya. Menutup matanya dan menghela napas. Dia tenang, dan untuk sesaat dia berpikir dia hampir kehilangan kontrol karena terlalu senang, karena hari ini dia bisa bertemu dengan seseorang yang merupakan ‘keluarga’ baginya.

Seseorang yang mungkin akan mengerti bakat yang dia miliki, karena orang itu juga memiliki apa yang dia miliki.

Ya, pagi hari itu diawali dengan kabar yang bagus, karena hari ini seharusnya ‘Wraith’ lahir, dan itu tandanya dia harus menjemput ‘kakak’ nya itu. Orang yang Helena harap akan mengerti betapa spesialnya mereka. Orang-orang yang lahir dari ‘darah’ yang sama dan memiliki sesuatu yang ’spesial’ itu.

Penerbangan yang lama dan antusiasme untuk bertemu orang itu membuat Helena sedikit lelah dan terkantuk-kantuk, dalam batas tipis antara tetap terjaga dan mimpi Helena mendengar suara yang dia kenal dan dia sayang. suara William D’arch Schneider; Ayahnya. Dan itu membuatnya mengingat sesuatu yang mengubah hidupnya selamanya.

Waktu itu 1991, umur Helena masih sekitar 6 tahun. Dia terbangun dari tidurnya dan melihat William duduk disamping tempat tidurnya. Tersenyum.

Ayah, ada apa?

Terbangun dengan ayahnya disana, buat Helena adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Ayahnya adalah satu-satunya keluarga tersisa yang dia punya, dan William jarang ada untuknya karena alasan pekerjaan.

Walau begitu Helena tahu kalau William sangat menyayanginya, yang dia tahu adalah apa yang William lakukan adalah sesuatu yang sangat penting untuk dunia. Karena William selalu mengatakan itu ketika Helena bertanya.

Apa yang ayah lakukan adalah sesuatu yang akan menyelamatkan manusia pada saatnya nanti..

Pagi itu, Melihat sesuatu yang sangat jarang terjadi itu. hal pertama yang Helena katakan adalah sebuah pertanyaan. “Ada Apa?”

Helena.. Ayah ingin menceritakan sebuah cerita

Cerita itu cerita yang panjang, dan untuk Helena adalah cerita pertama-terakhir dan terbaik yang William pernah ceritakan padanya.

Cerita itu berkisah tentang seorang raja bernama William yang memiliki beberapa orang anak. Anak yang paling kecil bernama Putri Helena.

Alkisah putri Helena semenjak kecil terpisah dari saudaranya karena kekuatan jahat dari penyihir bernama ‘Grey’. ‘Grey’ ingin menguasai dunia dan dia takut terhadap kekuatan magis yang dimiliki oleh anak-anak Raja, sehingga ‘Grey’ berusaha untuk menculik dan membunuh semua anak Raja.

Anak tertua dari Raja adalah seorang ksatria, dia meminta restu dari sang Raja untuk membunuh ‘Grey’, dan sang Raja mengijinkan.

Bulan berlalu dan anak tertua ini tidak pernah kembali. Sang Raja yang menyesal, sedih karena kehilangan anak tertua dan ketakutan atas mara bahaya ini memohon pada dewa bernama ‘RAVEN’ agar anak-anaknya dapat selamat.

‘RAVEN’ menyetujui permohonan ini dengan syarat bahwa anak-anak raja mesti dipisahkan untuk dirawat oleh rakyat biasa, dan ingatan mereka tentang raja, kekuatan magis dan keluarganya dihapus untuk selamanya.

Raja yang sedih kebingungan menyetujui syarat ‘RAVEN’ ini. Seiring dengan waktu, satu demi satu anak-anak raja perlahan-lahan kehilangan ingatan mereka, dan pada akhirnya menghilang.

Helena merupakan anak raja yang terakhir akan ‘RAVEN’ sembunyikan, dan sesaat sebelum Helena mulai kehilangan ingatannya, sang raja memutuskan untuk menyembunyikan Helena dari ‘RAVEN’ dan memutuskan untuk melindungi anaknya sendiri dari ‘Grey’ betapapun menakutkannya ‘Grey’.

Dia menyesal anak-anak yang lain harus kehilangan ingatannya, dia menyesal mesti menyetujui syarat ‘RAVEN’ dan dia menyesali itu seumur hidupnya.

Cerita itu berakhir disitu, dan ya… itu cerita pertama dan terakhir dari William untuk Helena.

Tersentak dari mimpinya karena pendaratan yang buruk di cuaca yang tidak bersahabat, Helena terjaga. Dia mengguman.

dan kini aku harus menjemput saudara-saudaraku dan mengingatkan mereka akan ingatan yang hilang itu

Hari itu kami sengaja memblok apapun yang menghalangi jalur tracer kami dengan posisinya, walau 0102 memiliki transmitter di dalam tubuhnya tapi transmisi yang lemah itu membuat kami terpaksa mengirim beberapa orang untuk mencari keberadaan exactnya.

Lady Helena yang dari tadi memandang ke arah layar monitor didepanku nampak sangat senang karena begitu kami menemukan 0102 dia akan bisa bertemu dengan salah satu dari anggota keluarganya yang tersisa.

Walt, apakah orang yang kita kirim sudah menemukan kakak-ku?

, tanya Lady Helena dengan antusias.

Aku sendiri heran dengan panggilan itu ‘kakak’? begitu mudahnya dia memberi julukan itu padahal mereka berdua belum pernah bertemu sebelumnya.

Aku ingin bertemu dengannya, dan I can’t wait to tell him that we’re related by blood

, serunya lagi.

Ya, walau 0102 dan Lady Helena berasal dari pasangan kromosom yang berbeda, tapi keduanya memiliki kesamaan yang membuat mereka secara teknis bersaudara.

Darah spesial itu…

Walt, Itukah dia!

, teriakan Lady Helena membuyarkan lamunanku.

Ya itu dia

, aku segera meraih COM dan mengintruksikan orang-orang khusus yang kami kirim ke lapangan

Aku melihatnya, dia ada di barat laut dari lokasi kalian, sepertinya dia baru saja Ejected, segera jemput  dia

, perintahku.

Akan kami lakukan!

, begitu respon dari anak buahku,

Kemudian aku memandang ke layar utama, disana aku bisa melihat gambar yang ditransmisikan langsung dari kamera di helm anak buahku. Di gambar itu aku melihat dia, 0102 yang terkapar, badannya basah oleh hujan dan darah dia sendiri.

Aku tidak pernah suka pemandangan Ejected ini…

, seru Lady Helena lirih.

Aku melihat wajah murung dari Lady Helena, aku bisa memahami perubahan ekspresi itu, untuk merasakan proses dimana seluruh darah didalam tubuhmu dipaksa untuk keluar bukanlah sesuatu yang mudah, rasa sakit yang panjang dan luar biasa cuma salah satu dari banyak resiko dari proses Ejected ini.

Tapi itu adalah sesuatu yang akan dialami seluruh Raven Child, begitu tubuh mereka siap untuk menampung semua Darah spesial itu maka proses Ejected itu akan terjadi.

Walt!

, Lady Helena berteriak lagi.

Saat aku melihat ke arah layar, disana aku bisa melihat 0102 yang sedang menghajar semua anak buahku dengan mudah.

Tch.. a teenage high school boy can kick few British SAS Veteran ass in just 60 sec

That’s my Bro! Keren ya Walt!

, seru Lady Helena bangga.

Aku heran, gadis cantik di sebelahku itu begitu terkagum-kagum dengan apa yang 0102 lakukan padahal dia sendiri capable untuk melakukan hal yang sama.

Aku bertaruh Lady Helena bisa melakukannya dalam 30detik

, gumanku

Apa Walt?

, seru Lady Helena.

Ah nothing.. just random mumbling..

Sesaat kemudian, yang kulihat di layar hanya langit, awan dan rintik hujan..  kurasa gambar itu ditransmisikan dari anak buahku yang sedang pingsan terkapar dihajar 0102.

Sial, Kita kehilangan dia

, seruku

Aku melihat ekspresi Lady Helena yang berubah, bertahun-tahun aku melindunginya, aku mengenal ekspresi itu. Itu ekspresi menginginkan sesuatu yang biasanya aku bilang “Tidak!”

Walt.. ng could you grant my wish?

Anything for you my lady?

, jawabku.

Aku ingin menjemput Kakak

, serunya dengan penuh pengharapan.

Tapi itu terlalu berbahaya!

, bentakku.

But I want to be there, I know the feeling of “Ejected”, I want to meet Him directly!

, balasnya dengan tegas.

Gadis itu memandangku dengan tegas, kedua alisnya mendekat satu sama lain, matanya menusukku dengan tajam semenatara kedua tangannya mengepal.. menunjukan kesungguhan.

Tidak bisa my lady, it’s too dangerous for you

Kali ini ekspresi kesungguhan itu berubah, aku bisa melihat kilauan kilauan dari fragmen air mata yang mulai terbentuk dimatanya yang perlahan-lahan mengumpul menjadi satu.

Tapi cuma aku yang bisa mengerti kakak.. dan aku ingin bertemu dengannya

Kali ini aku tidak bisa menolak, semua orang di Manor ini tahu kalau Lady Helena sampai menangis seperti itu karena sebuah permintaaan.

Permintaan itu berarti sesuatu yang harus dilakukan dan kalau perlu dibayar dengan nyawa. Karena aku akan melakukan apapun agar dia bahagia.

Karena gadis tegar yang sedang berlinangan air mata itu, hampir tidak pernah menangis.. bahkan di hari kematian Lord William.. Ayahnya

Hari itu ayah menampar mama-ku lagi, aku diam di kamarku, aku ingin keluar dan berteriak pada ayahku untuk tidak melakukannya, tapi aku cuma anak kecil dan aku juga takut, terlalu takut. . .

Dulu kamu tidak begini, sekarang kemana kamu mau pergi!!

Bukan urusan mu!

PLAK!!

Dan itu tamparan kedua.

Yang baru aku mengerti dari hidup ini adalah orang bisa saja berubah, aku ingat bagaimana kita dulu bersama dan bahagia, mungkin waktu itu kita nggak punya rumah besar dan mobil, tapi aku suka masa lalu dimana ayah suka menggendong aku dan menggenggam tangan mama, aku benci rumah ini dan mobil sport itu jika semua menjadi penyebab pertengkaran mereka.

lagipula kenapa mereka harus selalu bertengkar. .

Dan pintu kamarku terbuka, aku segera melompat ke tempat tidur dan berpura-pura sudah tertidur lelap, dan yang baru masuk itu mama. . .

Maafkan mama Frey. . .

Wanita itu menangis, dia menangis di dekatku, dan aku cuma diam, aku ingin bangun dan memeluknya tapi aku tahu dia akan menyadari kalau aku mendengar semua pertengkaran tadi dan itu hanya akan membuatnya lebih sedih.

Mungkin aku hanya anak kecil, tapi setidaknya aku tahu apa yang harus aku lakukan, yang terbaik saat itu adalah tetap berpura-pura tertidur.

Hanya saja mama sudah kehabisan kekuatan. . .

, Lanjutnya.

Mataku mulai basah oleh air mata, aku berusaha untuk tidak mengeluarkan suara…. aku tidak mengerti kenapa mama harus menangis, kenapa ayah harus menamparnya, kenapa mereka harus seperti ini.

Mama menciumku, Dan yang terakhir aku dengar hanya suara pintu kamarku ditutup

Aku pun tertidur. . .

Aku hanya tak mengerti . . .

Kenapa kita tak bisa kembali ke masa lalu . . .

Tuhan, kalau Kau mendengarku, kumohon kembalikan kami . . .

ke masa itu . . .

kumohon. . .

Keesokan harinya aku bangun, dan mencari-cari mama, yang aku dengar adalah suara air, air yang jatuh dari shower, aku kira mama sedang mandi, tapi aku melihat tetesan darah di lantai membuat barisan titik-titik merah yang mengarah ke kamar mandi, aku tidak mengerti apa itu, tapi sesuatu dalam diriku mengatakan untuk melihatnya.

Di sana aku melihat ayahku, dia berlutut, terisak-isak.

Air di bak mandi berwarna merah pekat.

Air dari shower terus mengucur,

tapi yang aku dengar adalah kesunyian yang panjang.

Di sana juga aku melihat mama,

Ada irisan di tangannya,

ada pisau tergeletak disisinya

Tubuhnya kaku, kehilangan sinarnya,

ayah memelukku, aku cuma diam, kenapa ?

Maafkan papa…

Tapi kenapa ?

love of my life, you’ve hurt me, you broken my heart
and now you leave me, love of my life cant you see
bring it back, bring it back, dont take it away from me
because you dont know, what it mean to me
[Love Of My Life - Queen]

Kurasa hidupku tidak akan pernah sama, dan yaa. . hidupku memang tidak akan pernah sama lagi. ternyata orang-orang asing berpakaian taktis itu lebih memilih menggunakan pihak kepolisian lokal dan menyiarkan rumor bahwa aku adalah salah satu dari buronan teroris internasional berbahaya.

Sekolah ini dikepung dari berbagai arah, dari kejauhan aku mendengar suara helikopter yang berputar-putar di angkasa. Mereka dan pihak kepolisian memilih untuk menunggu diluar dan berharap aku menyerahkan diri.

Dan disinilah aku, dikelasku, ditengah-tengah murid kelas ini, aku tidak memegang senjata berbahaya apapun, tapi orang-orang didalam ruangan ini nampak ketakutan, ya tentu saja karena mereka mendengar suara dari luar yang menyuruhku untuk menyerahkan diri dan tidak menyakiti siapapun.

Secara logika, orang-orang diluar sana dengan senjata lengkap mereka bisa melawanku yang tidak bersenjata tapi mereka tidak memilih untuk menyerbu masuk dengan seluruh kekuatan mereka melainkan dengan menunggu. Sebenarnya apa yang mereka takutkan ? dari seorang tidak bersenjata yang baru saja kehilangan banyak darah.

‘Darah. . . ‘, kata itu muncul dibenakku.

Yang aku pikirkan adalah kejadian tidak wajar dari tubuhku yang aku alami sebelumnya, dan kemudian kejadian tidak wajar lainnya dimana aku dikelilingi orang-orang militer. Dan sekarang tiba-tiba aku menjadi teroris internasional.

Karena darahku, entah apa yang terjadi denganku tetapi mereka menginginkan sesuatu yang berhubungan dengan apa yang aku alami. Kejadian itu sangat tidak biasa sehingga mungkin mereka ingin menelitinya, dan jika dihubungkan dengan refleks dan gerakan beladiri yang tiba-tiba aku kuasai mungkin semuanya saling berhubungan.

Ada sesuatu dalam diriku yang mereka inginkan

Oleh karena itu mereka tidak menyerbu masuk, selain mereka mencoba mengurangi sebanyak mungkin korban, sepertinya mereka juga berusaha agar bisa menangkapku hidup-hidup.

Pertanyaannya sekarang apa sesuatu yang mereka inginkan itu ? dan kenapa harus aku ?

Mungkin aku terlalu terlena dengan banyak pemikiran sampai aku baru saja menyadari kalau aku bisa mengerakan jari tanganku. . . kemudian aku melakukan serangkaian testing ke beberapa aspek dari tubuhku. . . dimana otakku mengirim instruksi-instruksi perasa yang mendapat respon dengan baik, kurasa aku sudah ada di dalam tubuhku lagi. . .

Apakah kalian menyadari waktu ? waktu adalah fragment dari momen. . . jadi satu waktu yang bernama sedetik adalah kumpulan dari banyak momen yang teruntai jadi serangkaian cerita. . .

Tiba-tiba saja aku belajar apa itu ‘moment in time’ dengan cara yang keras. . . karena tiba-tiba dalam satu momen aku terbangun dengan cepat.. u know. . dengan gerakan yang seperti di film-film aksi kalau tokoh utamanya terjatuh dan bangun, dalam momen selanjutnya aku menendang salah satu orang berpakaian hitam itu dan momen lainnya aku mendorong dia ke arah orang berpakaian hitam lainnya.

Dua terjatuh. . . dan orang yang satu baru menyadari apa yang terjadi, aku tidak bisa menyalahkannya karena semua terjadi begitu cepat. . . begitu cepat sampai aku sendiri bingung kenapa aku harus menghajar mereka semua , terlalu cepat sampai aku bingung kalau aku punya gerakan secepat dan seefisien ini ?

Dia mengarahkan senjatanya padaku

‘Don’t Move!!!’, teriaknya.

Sepersekian detik kami berdua terdiam. . . dia memegang senjata dan aku berdiri di dekatnya

Wow! Orang asing. . . kagumku, sambil terkagum tangan kiriku meraih senjatanya, mengarahkan ujungnya ke udara dan tangan kananku memukul orang itu tepat di dagu. . . topeng gasnya terlepas dan terlempar keudara. . .dia goyah. . . jatuh terduduk dan sesaat kemudian senjata itu ada di tanganku. . . berikut suara topeng gas yang jatuh ke tanah. . .

Sepersekian detik lainnya kami berdua terdiam. . . tapi dalam kondisi ini aku yang berkuasa

Dua orang lainnya baru bergabung bersama kami, menodongkan senjata ke arahku. . .

‘kemana saja dalam beberapa sepersekian detik terakhir’, gumanku.

Mereka berdua tidak bisa melakukan apa-apa karena senjata yang aku pegang sedang aku todongkan pada teman mereka. . . yang terduduk di depanku. . . Kurasa tidak perlu kata-kata untuk menjelaskan pada mereka apa yang mungkin aku lakukan saat ini bukan? Jadi mereka memahami apa yang aku lakukan dengan mengamati. . . that’s smart.

Orang yang aku todong memandang ke arah senjata yang aku pegang, ke arah spesifik dan sedikit senyum. . .aku bilang sedikit karena nampaknya untuk menyadarinya diperlukan alat pengukur dengan akurasi ukuran tingkat atomic. Tapi aku menyadarinya. . . dan senyum atomic itu juga ada di kedua temannya yang menodongku. . .

Mungkin mereka berusaha menyembunyikan senyum itu dengan sangat susah payah. . sayang sekali aku menyadarinya. . . dan itu membuatku mengarahkan pandanganku pada senjata yang aku pegang…

‘Ah I know. . . the safety lock’, seruku keras sambil menekan kunci pengaman dari senjata itu.

Kalian tahu kunci pengaman untuk senjata ? itu adalah sejenis switch on-off, jika switch itu tidak aktif maka senjata tidak dapat digunakan walaupun picunya ditekan. Dan jika switchnya aktif maka senjata itu akan melakukan tugasnya dengan baik. . . no wonder ketiga orang itu sempat melakukan senyum atomik. . .

Dan ya. . begitu mendengar kata-kataku, senyum atomik tadi hilang dari wajah mereka. . . sesaat kemudian senjata yang aku pegang sudah meluncur menuju muka salah satu dari kedua orang yang memegang senjata, teman disebelahnya yang memegang senjata menembakkan senjatanya ke arahku, tapi terlambat karena aku sudah tidak ada disana. . .

Aku sudah berlari ke arah gerbang sekolah dan memanjatnya dengan kecepatan yang aku tidak pernah punya. . . bahkan yang aku tahu aku tidak bisa memanjat apapun yang memiliki ketinggian lebih dari 1 meter ? tapi kenapa sekarang aku bisa ?

Yang jelas aku berlari ke arah sekolah karena siapapun orang-orang bersenjata itu mereka pastinya tidak akan menggunakannya di tempat umum macam sekolah bukan ?

Yang aku bingung sekarang adalah kenapa aku berlari dari mereka, aku tidak tahu siapa mereka tapi kenapa begitu bangun tubuhku melakukan perlawanan, dan kenapa aku bisa melakukan semua perlawanan itu ? seakan-akan aku memang bisa melakukannya. . .

Padahal aku dulunya Cuma orang biasa. . . kenapa semua yang aku lakukan begitu aku bangun tidak biasa ?

Aku berlari menuju bagian tengah dari sekolah dengan pertanyaan-pertanyaan itu. . . .

Pelahan-lahan cahaya datang padaku. . . cahaya yang membuatku bisa melihat. . . apakah ini neraka ? atau Tuhan memutuskan aku untuk masuk untuk surga ?

Well… aku pernah dengar istilah kalau Tuhan sangat menyukai humor, dan oleh karena itu dia menciptakan banyak mahkluk lucu dan imut di muka bumi ini. . . tapi memaksa malaikat mautnya untuk memakai pakaian berwarna hitam, gas mask dan memegang Sub Machine Gun adalah selera humor yang sangat keterlaluan.

Kenapa begitu ? karena saat aku bisa melihat dengan penuh dan mataku terbiasa dengan cahaya. Setelah kegelapan yang begitu lama aku melihat langit. . . aku melihat beberapa orang berpakaian taktis lengkap dengan senjata mereka. . .

Sesaat aku pikir. . . malaikat maut lebih cocok dengan jubah dan schyte daripada baju taktis dansub machine gun. . . tapi pikiran itu buyar saat aku melihat gerbang sekolahku. . . gerbang sekolah abu-abu. . . dan orang-orang berpakaian hitam disekelilingku. . . berarti aku masih hidup, masih berdetak dan masih bernafas. . .

Hujan nampaknya sudah berhenti karena aku bisa melihat cahaya matahari yang menembus awan, I can see the rainbow in my eye. . . so silent. . . so great. . .

Thank God this is not death, im sorry im making fun of your taste of humor

Tapi ada sesuatu yang harus aku pikirkan. . . kenapa untuk mengatasi seseorang berlumuran darah memerlukan beberapa orang bersenjata ? kenapa aku tidak melihat satupun staff medis berpakaian putih dan berwajah ramah, why they should bother membawa senjata segala ?

Oh ya. . aku ingat kemungkinan virus yang aku pikirkan tadi. . . mungkin mereka berpikir untuk melakukan gerakan precaution. . . siapa tahu yang aku idap adalah T-Virus yang bisa membuatku jadi Zombie ganas seperti di film-film ?

Yeah rite

Dan aku tetap terbaring. . . wondering. . . dan mereka di sekelilingku yang seakan-akan menunggu sesuatu. . . atau seseorang . . .

Rasa sakit yang aku rasakan makin menjadi, darah yang mengalir di hidungku terus mengalir walau aku seka. . . aku bisa melihat di tanah bagaimana mereka membaur dengan jelas. . dan mengalir perlahan terbawa arus air kecil yang mengalir di kakiku. . . hujannya begitu deras tapi aku berdiri disana dan tertegun. . . kaget atas apa yang terjadi. . . betapa banyak darah yang mengalir. . . dan rasa sakit yang meledak-ledak. . .

Bagaimana itu meledak-ledak ?

Karena rasa sakitku berdetak. . . rasanya rasa sakit yang aku rasakan berdenyut dengan sebuah ritme, dan rasa sakit itu berjalan di seluruh tubuhku. . . kadang dia berdenyut di kepalaku, kadang dia berdenyut di dadaku, kadang dia berdenyut di perutku. . . dan kadang di kakiku. . .

Seakan-akan secara harfiah ada untaian bom di seluruh pembuluh darah dalam tubuhku yang meledak sesuai dengan jalurnya. . . merantai dari kepala sampai kaki. . . begitu sampai ke kaki aku tidak mampu untuk berdiri. . .

Aku terjatuh. . . tidak mampu berdiri. . . bahkan tidak mampu menggerakkan jariku

Dalam hati aku berguman, aku bingung. . .

Apakah ini ? apakah ini kematian ? apakah ini saat dimana nyawaku dicabut ? kalau iya berarti aku adalah orang yang terkutuk karena rasanya sangat menyakitkan

Dan itu semua terjadi. . . aku melihat darah di tanganku. . . awalnya aku pikir itu bekas yang tertinggal saat aku menyeka hidungku, tapi yang aku heran kenapa bekas itu masih ada padahal air hujan turun begitu deras mengenai tubuhku. . . sesaat aku menyadari ternyata itu bukan bekas darah. . . tapi darah yang mengalir keluar. . . karena aku melihatnya di tanganku yang lain, aku melihatnya di seragamku yang menjadi semu merah. . . aku melihat aliran air yang bercampur darah mengalir. . .

Seakan-akan darahku jijik padaku dan memaksa untuk keluar dari tubuhku . . . mereka memilih untuk meninggalkanku dengan keluar melalui jalur apapun yang mereka temui. .

Jalur apapun ? ya. . . aku rasa mereka mengalir melalui pori-pori kulitku karena tubuhku tertutupi darah panas yang bercampuran dengan air hujan. . . jika seseorang melihat ini maka ini adalah seuatu yang mengerikan. . .

aku cuma terdiam

Ketakutan, panik, tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena aku tidak mengerakkan satu incipun dari tubuhku. . . jiwaku masih disana, aku masih berpikir. . . tapi sepertinya tubuhku bukan milikku lagi. . . . . . Kemudian semuanya menjadi gelap. . .

Aku pernah mendengar penyakit yang diakibatkan virus yang menyebabkan organ dalam kita rusak dan darah mengalir secara harfiah melalui pori-poari kulit. . . sesaat aku berpikir apakah ini semua karena penyakit itu ? jika iya kenapa itu aku ?

Aku terjebak di kegelapan. . . kurasa tubuhku yang terbaring dan berdarah itu sekarang sudah ditemukan orang-orang. . . tubuh yang terbaring di depan gerbang sekolah tua berwarna abu-abu. . . sejenak terbayang bagaimana hebohnya headline surat kabar esok. . .

Well.. sayang sekali aku tidak dapat melihat headline itu, karena aku berakhir di dalam kegelapan sekarang. . .

Di kegelapan itu aku tetap berpikir. . . kurasa sudah terlambat untuk berpikir semua itu sekarang. . . Kurasa aku mati. . . melalui cara pencabutan nyawa yang menyakitkan dan mengerikan. . . dan kini aku menunggu seseorang datang padaku dan mengatakan

Welcome to hell

September itu semua terasa dingin, like the old adage yang bilang kalau semua bulan yang berakhiran ‘ber’ adalah bulan yang ada hujan.

Well dunia sudah terlalu berubah untuk menggunakan standard seperti itu. But. . . bulan ini mematuhi old adage itu dengan menurunkan hujan. Aku yang terlambat bangun pagi itu berlari-lari untuk mengejar keterlambatanku.

manusia yang mengejar waktu

Pagi yang mengerikan dimana aku basah kuyup, kedinginan dan dengan mood yang kacau balau. Jantungku berdebar karena aku berlari. . . what’s worse adalah aku tetap terlambat. Jam sudah menunjukkan 9.15, so aku terlambat 15 menit. Dan seperti kata sebuah kebijakan yang ada di sekolahku bahwa gerbang ditutup 10 menit setelah jam 9.

Gerbang tua itu sudah tertutup, tetes hujan yang menimpa gerbang berbunyi gemericik. . . terdengar seakan-akan tepukan tangan yang mengejek kesendirianku. Gerbang tua berwarna abu-abu berdiri kokoh mencegahku untuk masuk.

mengejar waktu, well that’s a stupid effort

Menyadari stupid effort itu aku berhenti. . . basah kuyup, aku hampir tidak bisa melihat apapun melalui kacamataku yang basah karena hujan, im so wet and I feel a tremendous headache.

So I decide to go home

That’s a big decision. . . kenapa begitu ? apa yang sulit dengan pulang ke rumah ? karena selangkah aku berbalik dari gerbang sekolah I feel the tremendous headache again. . . it is so painfull . . . sampai aku memegang kepalaku dan mengerang. . . I hurt like hell…. It so damn painfull. . .

I hold my head, hold it so tight because I feel the pain, as it will chopped out of my body

And I bleed. . . my bloody red blood, aku kaget dengan apa yang terjadi. . . cairan kental berwarna merah mengalir di hidungku. . . menetes. . . terbaur dengan air hujan. . . dan tetesan air di gerbang yang gemericik makin keras. . . bertepuk tangan. . . dengan meriah. . .

A great applause for the day….. the birth of the black winged raven

Namaku. . . apakah itu penting ? beberapa orang di kelasku banyak yang melupakannya, bukan salah mereka actually. . . itu salahku yang tidak mau stand out dan mulai berbicara dengan mereka. . . why ? I don’t want to bother untuk berteman. . . walau aku sangat ingin mengatakannya pada mereka dengan ramah. . .

That my name is Reed, Freyr Reed

Dulu mungkin aku orang menyenangkan yang orang-orang bisa jadikan teman, tapi kini. . . keluarga super averageku banyak berpindah-pindah rumah sehingga aku terlalu malas dengan perjumpaan dan perpisahan. . . terlalu banyak perpisahan dengan orang-orang yang aku sebut anggap teman. . . so sekarang. . . di sekolah baru ini aku tidak mau melibatkan diriku dengan entitas bernama manusia.. . untuk menhindari diriku dari perpisahan yang menyakitkan betapapun indahnya sebuah perjumpaan. . .

Just both of us here, just me and my problem. . . that’s all

Entah kapan keluarga average ku akan berpindah lagi. . . kenapa mereka sangat suka berpindah ? ayahku, dan kakakku Nampak senang dengan perjumpaan dan perpisahan. Mereka Cuma mengatakan kalau semua ini demi ‘Ayah yang ditransfer ke divisi lain’.

Well I don’t know what my father do… apakah itu bagus atau tidak untuk ditransfer kesana kemari 6 kali dalam setahun. . . untuk pekerjaan yang aku bahkan tidak tahu apa. . .

karena kamu terlalu muda untuk peduli dengan itu, it’s an ordinary job yang mungkin membuatmu mengantuk mendengarkannya

Oh that’s a very considerate of you dad, aku akan mengantuk mendengarnya karena terlalu membosankan ?!! The hell with that, aku Cuma ingin tahu apa yang dia lakukan saat dia tidak ada ?

Aku cuma pelajar biasa, di dunia yang biasa. . . terlalu biasa malah ? di tempat biasa, dengan nilai biasa, skill olahraga biasa, kacamata biasa, hidup biasa, kejombloan yang biasa dan keluarga yang biasa.

A very average person without specialities

Tapi tidakkah semua hal yang biasa itu memberikan arti ? tidakkah semua hal yang biasa itu nampak mencurigakan ? dari kecil yang aku tahu seluruh hal biasa ini adalah sesuatu yang dibuat, didesain untukku agar aku tidak menyadari sesuatu. Kurasa waktu itu aku sangat yakin kalau aku special. . .

Apakah aku special atau tidak ditengah semua yang biasa ini adalah sebuah pertanyaan, pertanyaan yang akhirnya aku sadari beberapa tahun kemudian. . . kalau aku sangat tidak biasa!